Monday, February 20, 2006

Sepenggal Kisah about TA

Sekali-kali boleh dong nulis dengan gaya berbeda, sorry kalo' agak kacau sodara-sodara, MET membaca......
*******

" Tambak udang ....?"olok temanku
" PLC..? tabu bagi anak S1, pantesnya untuk anak D3 tuh....." pekik temenku yang lain
"Bagus dek,...." puji mas adhe di lain kesempatan
" Sipp, high level wan....." kata temenku satu dosen pembimbing
"Bagus wan,aplikatif, ibu dukung ......" tutur bu Katherin-dosen pembimbingku- semakin memantapkanku
Ya....begitulah sekelumit komentar orang-orang terdekatku mengapresiasi topik tugas akhir (TA)-ku yang berjudul " Rancang Bangun Sistem Pengendali Kualitas Air Tambak Udang Berbasis PLC ". Ada yang bikin BeTe, nggak PD, ampe' yang bener-bener bikin bara semangatku menyala-nyala.....
Dan kesibukanku ngerjain TA pun dimulai; nenteng buku yang gede-gede dan beratnya minta ampun, bolak-balik ke ruang baca dan perpus pusat, begadang tiap malam, gangguin anak labkom dengan ke-cuekan-ku ngenet hingga dini hari, memberondong ikhwah elektro dan PENS dengan segudang pertanyaan yang kadang eS Teh ( Sok Tehu ), dandanan rapi-ku yang membuat gusar cak Jo dengan banyak analisanya kepada para penghuni Sahada Corner - cilakanya semua akhwat- dimana salah satu hasil analisa ngawurnya yang membuat mukaku bersemu ;" awan mau nikah " ( amien ..... cak Jo ) dan masih banyak lagi perubahan aktivitas yang cukup membuat penghuni sekpa punya banyak bahan untuk mengolok-olok : ).
Hingga, awal klimaks dari idealisme TA pun diuji pada SEMINAR PROPOSAL TA di Lab Rekayasa Instrumentasi, duh..... pagi-pagi udah harus siap-siap coz jam 8 musti dimulai. Yup,ujian idealisme.....seperti estimasiku, anak-anak lab instrumen yang TA semuanya ngambil plan di industri ( kolom destilasi, HYSIS, Van Der Vuss, dll ), jangan ditanya algoritma dan control mereka yang"high Level"; jaringan syaraf tiruan (JST), fuzzy, neuro fuzzy ( sorry untuk pembaca yang bukan anak teknik )
Ughfffff ..... sempet nggak PD sih, but ...... show must go on, berkali - kali aku beristighfar,menata niat, memohon pertolongan, dan akhirnya nama M. Awan Eko Sabilah pun disebut.
Presentasiku lancar, but tunggu dulu, ujian belum selesai, selanjutnya sesi tanya jawab dengan dosen penguji nan menegangkan.
" Apakah bisa PLC dipake ngendaliin Dissolved Oxygen (DO)? " sergah dosenku
"bisa pak, bla...bla...." uraiku
" lho faktor yang mempengaruhi DO itu banyak mas, bukan temperatur aja" cecar dosen yang lain
"bener pak, tapi batasan masalah saya bla...bla.... dan dari literatur ditunjukkan bahwa bla...bla....."tuturku tak kalah sengit sambil menunjukkan grafik temperatur-oxygen saturation
" Anda salah....bla....bla...." dosen penguji semakin sengit
"Lihat di batasan masalah pak ....." bela bu Katherin
Bla.....Bla......Bla.....
Dan puncaknya ; " wah..... kamu musti banyak ngambil referensi......kurang tuh....di atas ada buku warna kuning bla...bla..."tutur salah satu dosen penguji dengan "senyum"nya yang mengiris - iris hati.
Setelah melewati beberapa menit yang cukup panjang dan melelahkan, akhirnya selesai juga. Bu Katherin keluar sekalipun harusnya beliau masih wajib di ruangan seminar karena ada bimbingannya yang lain belum maju,aku bergegas menyusul.
"bu, bisa perwalian?"pintaku
" bisa, di LPPM ya..." jawab beliau tetep ramah seperti biasa sekalipun urat-urat ketegangan masih nampak di wajah beliau
Sesampainya di LPPM :
"Kok gitu sih.....masak udah dijelasin kok ngeyel terus.....toh mereka tidak punya referensinya"
"kayaknya nggak efektif presentasi seperti itu...."
"nggak adil ..."
"awan tadi tahu kan kalo ibu marah sama para penguji ...." meluap-luap emosi bu katherin menghapuskan keceriaannya yang selalu kulihat saat berinteraksi dengan beliau
Bla.....Bla.....Bla....
Aku terdiam,kubiarkan wanita berputri satu ini mengomentari sikap para dosen penguji tadi.Dan perasaan haru, sedih, lega bercampur jadi satu menyergap dinding kalbuku, entah bernama apakah perasaanku saat itu .
Subhanalloh, dosen pembimbingku yang satu ini begitu perhatian, memang interaksi antara aku dan beliau cukup lama, karena selain sebagai dosen pembimbing TA, beliau juga dosen wali dan pembimbing kerja praktek, tapi tetep aja pembelaan beliau tadi kepadaku sangat besar artinya.
Setelah bisa mengalihkan pembicaraan dan emosi beliau yang mulai tenang;
" Saya sudah menduga kok bu, dengan metode dan topik TA saya, sikap dan pertanyaan seperti itu sudah saya duga" tuturku
"Saya punya idealisme, bahwa TA saya harus membumi, aplikatif, ....."lanjutku
"Bagus...." jawab bu Katherin mengokohkan pendirianku.
"Terima kasih bu ....." jawabku sembari tersenyum
Dan setelah perwalian dan ngobrol beberapa saat aku pun keluar dari ruangan LPPM dengan satu keyakinan bahwa aku tidak sendirian, ada bu Katherin, sohib-sohibku, dan yang pasti sesuai janji-Nya; " Laa Takhofu, wa Laa tahzanu, Innallaha ma'ana ...."
Perjalanan TA- ku masih cukup panjang.........so doain moga ALLOH SWT - Sang Pemilik Ilmu - memudahkan ya ...., amien yaa robbal'alamin.....

Senja di Sekpa dengan rasa sakit yang tak tahu apa, Februari 2006