Thursday, June 01, 2006

Karena Aku Lelaki Biasa

Dan kembali aku harus tahu diri, mengenal lebih intim hakekat ke-dirian-ku. Bahwa betapa pun aku dengan segala idealisme, asa, dan segala label serta standart nilai yang melekat dan ingin diraih : aku tetaplah seorang lelaki biasa. Seorang lelaki dimana dalam potongan waktunya pernah berbuat kesalahan,dalam penggal sejarah kehidupannya sedang mengalami proses "gejolak jiwa" yang juga sejatinya "lumrah" terjadi pada manusia, diuji hatinya dengan ketertarikan kepada lawan jenis; ya.....aku sedang jatuh cinta, satu hal yang membuat orang pada umunya senang, tentram dan berjuta kenikmatan lainnya, tapi tidak dengan diriku.

Dalam kamus kehidupanku-karena Islam mengajarkanku demikian- tidak ada kalimat : " pacaran sebelum nikah ", sekalipun memang pada saat yang sama disinilah letak permasalahannya, saat hati tertaut dengan seorang akhwat, akan tetapi di sisi lain belum adanya keberanian diriku untuk dengan gagah berucap kepadanya : " maukah anti berbelah nyawa denganku untuk menyempurnakan dien ini? ". Karenanya siapa pun boleh berkomentar apa saja tentang diriku; pengecut atau seabreg cacian lainnya.

Hingga pilihannya jelas : aku harus bisa mengendalikan atau jika perlu melupakan "cinta kepagian" ini. Dan Alhamdulillah, segala puji syukur kehadirat Dzat yang menggegam hati, setelah melalui "proses" yang cukup panjang, aku tidak terjebak semakin jauh dengan perangkap setan ini.

Kemudian hikmah yang dapat kuperas dari peristiwa ini yakni: pada dasarnya ke-tidaknyamanan-ku dengan perasaan ini, adalah kemerdekaan diri yang terbelenggu. Kemerdekaan untuk memuja-Nya dengan sepenuh hati tanpa pamrih, kebebasan untuk berkehendak menebar kebaikan kepada siapa pun tanpa harus "ewuh pakewuh" dengan atau tidak disaksikan orang yang kita cintai. Harta dan kehormatan apalagi yang kita miliki jika kemerdekaan yang paling asasi itu terenggut dari diri ini?

Betapa pun mencintai adalah satu sifat kodrati yang wajib dimiliki setiap insan yang memiliki hati, akan tetapi semuanya harus ditempatkan sesuai "maqom"-nya. Cinta kepada sang Kholiq, ibu - bapak, anak- istri, saudara, sahabat, masing - masing memiliki porsinya sekalipun beberapa diantaranya akan saling mempengaruhi.

Menyesalkah aku? sekali ini tidak, karena aku kembali merdeka, hanya sebait puisi yang kutulis di penghujung malam:

ada hati yang diam-diam menangis
mengkhianati-Nya
adakah patut cinta-Nya diduakan
dengan cinta kepada makhluk-Nya?
bisakah kesucian cinta bersanding mesra dengan nafsu?
maka biarkan aku menjadi pemuda puritan
hingga tiba masa berbuka ....

Hujan dinihari di akhir perjuangan panjangku, 30 Mei 2006

4 Comments:

At 10:44 PM, Anonymous ranids said...

hmmm...bagus skali...

 
At 3:13 AM, Blogger Bintang bintang said...

hmmmm
terus kapan dong siapnya ?!?!
heheheheh

 
At 8:58 AM, Blogger kang_agah said...

aku juga lelaki biasa

 
At 12:05 PM, Anonymous Anonymous said...

Excellent, love it! Downloadable ringtones for sprint pcs outdoor hidden surveillance cameras www ppc edu2fsummerdance kathy school of dance in durand

 

Post a Comment

<< Home