Monday, April 03, 2006

Menikah, Ujian Kedewasaan ?

"Tua adalah keniscayaan, dewasa adalah pilihan", bahwasanya usia tidak selalu berbanding lurus dengan kedewasaan mungkin maksud dari ungkapan tersebut; ada yang badannya segede "DRUM" tapi tingkah dan mental masih seperti bocah. Dan itu yang saat ini kualami, hal ini kusadari beberapa waktu yang lalu, saat secara hampir bersamaan ada dua tawaran untuk menikah "disodorkan" kepadaku.
Tawaran pertama datang dari seorang ibu yang usianya lebih tua dibandingkan dengan ibuku, beliau adalah tetangga "mama" ku - sejatinya mama adalah bibiku-aku memanggilnya mama karena waktu kecil aku diasuhnya sebagai pengobat keinginannya untuk memiliki seorang putra yang imut ( emang sih harus aku akui waktu kecil aku imut banget...sorry sekali-kali boleh dong narsis ^-^ , gedenya aja amit-amit). Ibu tersebut memilki putri yang sedang kuliah di jurusan kedokteran sebuah perguruan tinggi di jawa tengah, ibuku yang saat itu mendapat tawaran, dengan halus menjelaskan bahwa ibuku bukannya pilih-pilih menantu -apalagi keluarga kami juga bukan kalangan berada yang bisa sok pilih bibit, bebet, bobot- tapi kalo' masalah pilihan untuk menikah dengan siapa dan kapan menyerahkan sepenuhnya kepadaku ( Thank's MOM, I LOVE U VERY MUCH ). Saat diceritain ibu soal tawaran itu aku cuman nyengir-nyengir aja ( dasar emang orang gebleg ).
Tawaran kedua datang dari seorang akhwat yang aku kenal tapi tidak tahu orangnya (perasaan, hampir sebagian besar akhwat yang kukenal, nggak pernah tahu orangnya kaya apa :) coz kata ustadz harus godhul bashor-menundukkan pandangan- jek....). Dalam satu pembicaraan dengannya- karena dia membutuhkan sesuatu- beberapa kali dia menanyakan sesuatu yang aku nggak "ngeh" juga, hingga akhirnya dengan agak berat (malu mungkin ) dia berujar ; " akh, gimana kalo kita tuker-tukeran biodata? ana udah ngerasa siap kok, ane juga udah ngomong ama ortu and MR,gimana akh?ini nomor HP MR ane .......".
" Ehhh.......ggggimana ya ukh, afwan ane belum siap, anti cari ikhwan lain yang lebih siap dan lebih baik dari ane aja ya ukh?" jawabku terbata-bata kaget dengan pertanyaan yang nggak dinyana aku bakal mengalami kasus "siti khodijah".
Glllleeek .....menikah?wah.......sekali lagi aku "merinding" dengernya, ternyata "masa" itu semakin dekat dan aku menertawakan kepengecutanku dengan menampik "ladang pahala " itu-laiaknya seorang bocah yang tidak menyadari bahwa di usianya yang ke-22 ada sebuah tanggung jawab kedewasaan dengan usia sekian - untuk mulai memikirkan amanah suci itu secara serius. Bukan kriteria yang menjadi permasalahanku, toh ...kalo boleh milih istri-orang yang dengannya aku berbelah nyawa-aku sih milih yang asal aja; asal sholeha, asal "cantik", asal sayang suami, asal sayang mertua ...he....he...
Masalahnya adalah bahwa aku merasa belum siap dan ini parahnya: aku tidak bisa secara jelas menstrukturkan apa definisi ketidaksiapan itu, hal inilah yang menyimpulkanku bahwa aku masih sangat "childish", sekalipun ada sebuah doa yang kurangkai, moga 2 - 3 tahun lagi niat untuk menggenapkan dien, diijabah oleh ALLOH SWT dengan pilihan hamba-Nya yang terbaik untuk ku, amien ya robbal'alamin, ampuni hamba-Mu ini ya ROBB....
Sembari menunggu masa itu tiba ; kuliah, berdoa, puasa, kerja menjadi ikhtiarku untuk dapat melewati masa lajang ini dengan gagah hingga terukir seulas senyum bidadari di ujung sana dalam penantian panjangnya, entah siapa .......

Dini hari di kota cinta dan perjuangan,awal April'06

4 Comments:

At 7:48 PM, Anonymous nuri said...

pas baca tulisan ini, palagi bagian "siti khadijah" thing, tiba2 jadi inget satu tulisan di milis, walaupun saya yakin yg dialami situ ga segitunya sih, tapi ttp aja lucu dan menarik u/dibaca:

Ya Tuhan, kalau dia memang jodohku,

dekatkanlah...

Tapi kalau bukan jodohku, Jodohkanlah....



Jika dia tidak berjodoh denganku, maka

jadikanlah kami jodoh...



Kalau dia bukan jodohku, jangan sampai dia

dapet jodoh yang lain, selain aku...



" Ya Tuhan, kalau dia tidak bisa di jodohkan

denganku, jangan sampai

dia dapet jodoh yang lain, biarkan dia tidak

berjodoh sama seperti diriku...

Dan saat dia telah tidak memiliki jodoh,

jodohkanlah kami kembali...



" Ya Tuhan, kalau dia jodoh orang lain,

putuskanlah! Jodohkanlah denganku....



Jika dia tetap menjadi jodoh orang lain, biar

orang lain itu ketemu jodoh dengan yang lain dan

kemudian Jodohkan kembali dia dengan ku ...



Amin



NB: Maafkan hamba-Mu karna telah

memojokkan-Mu ya Tuhan, habis

bagaimana lagi, hamba-Mu ini sudah kepepet!!!!!

 
At 5:42 AM, Blogger Bintang bintang said...

hmmm,
jadi ? sudah siap belum ? ^_^
gimana si antum itu akh :D
hihihi

 
At 11:53 PM, Blogger ummina daffawwaz said...

Sebagian kita memang terbiasa hidup bagaikan rangkaian seri. Habis kuliah, cari kerja, menikah,dst.

Kita belum terbiasa hidup secara paralel. Kuliah sambil nikah, sambil kerja, sambil dakwah, dll.

Gak apa-apa. Masing-masing berbuat sesuai kemampuannya.

 
At 11:17 PM, Anonymous Anonymous said...

Cool blog, interesting information... Keep it UP »

 

Post a Comment

<< Home