Wednesday, March 08, 2006

Nggak Sekedar A3ST (Afwan, Ane, Antum,Syukron, Tafadhol....)

Mungkin prokem-prokem di atas yang senantiasa menjadi bahasa keseharian komunitas "kita". Istilah-istilah yang pernah membuat adik dan ibuku pernah memanggilku si Said - salah satu tokoh di sitkom "Bajaj Bajuri"- saat mereka mendengar aku ber-ane-antum dengan salah seorang saudaraku di ujung telepon. Dan tidak sedikit dari "kita" yang mengalami perlakuan yang sama oleh orang-orang awam di sekitarnya, hingga tidak jarang "kita" pun mundur teratur untuk menggunakan prokem-prokem di atas karena malu dianggap sebagai makhluk asing ( nggak punya potongan arab sedikit pun kok lagaknya kaya' raja minyak dari kuwait ^_^).
Tentunya untuk bersikap ; menyembunyikan muka karena rasa malu atau membetonkan wajah ini dalam menggunakan istilah-istilah tersebut, semuanya berangkat dari esensi menggunakannya sebagai alat komunikasi interaksi "kita".
Prokem-prokem ataupun segala aksesoris yang menstigma kita dengan predikat aktivis dakwah, anak rohis,remaja masjid, dan segundang label Islami lainnya harus dipahami adalah bagian dari nasrul fikroh. Bahwa suatu budaya yang mengukuhkan standar nilai, norma atau ukuran-ukuran perilaku berlabel hitam-putih,benar-salah, dimulai dari konsensus nilai anggota komunitas tersebut untuk secara legowo baik sadar maupun tidak, untuk menggunakan entitas-entitas budaya tersebut. Dan proses transformasi nilai ( baca : syiar, dakwah ) baik yang dilakukan secara adopsi maupun diadaptasikan dengan socio-culture yang ada, dimulai dari hegemoni istilah yang bisa jadi selama ini "kita" lakukan sekalipun tanpa menebarkan hujjah-hujjah qouliyyah.
Artinya jika generasi muda- yang notabene merupakan segmentasi dakwah yang paling potensial- sekarang merasa nggak gaul jika nggak ber-elu-gue yang merembet pada perilaku yang berkiblat pada standar nilai "generasi gua banget" , maka menjadi keharusan bagi kita untuk mewabahkan A3ST, sebagai bagian dari usaha untuk mensibgho-i mad'u, hingga kelak jika A3ST sudah menjadi prokem keseharian, tinggal PR berikutnya mengarahkan kepada nilai-nilai Islam yang lebih utuh, dan itu Insya ALLOH lebih mudah.
Karenanya, A3ST nggak sekedar prokem,apatah lagi sekedar istilah tanpa makna, ia adalah wujud "creat a value ", sebuah perlawanan untuk imperialisme fikroh.
So...... masih malu bro/sist ? siapa takut ?


Senja di tempat penuh cinta, Maret 2006

1 Comments:

At 8:18 PM, Blogger Nashiyah... said...

assalamu'alaikum, bhasanya keren, gaul dan intelek. marilah kita ber-A3ST ria sbg bukti kita tidak terprovokasi bhasa skrang yg ber-elo gue dan ber-nyokap bokap...
hee..keep istiqomah..

 

Post a Comment

<< Home