Saturday, February 17, 2007

Seratus Perak yang Begitu Berharga













Pagi itu udara masih begitu segar, rerumputan yang berkeramas embun, dan suasana jalanan kota Surabaya yang masih lengang, dengan membonceng sepeda motor, aku diantar oleh salah seorang temanku ke tempat kost, setelah semalam aku harus menginap di sekertariat Jamaah Masjid Manarul Ilmi (JMMI) ITS Surabaya.

Sekitar dua puluh menit kami pun sampai di tempat kost, dan kemudian temanku pun kembali ke tempatnya. Tidak ada yang aneh pagi itu, aku segera memasuki kamar, mandi, bersih-bersih kamar, dan mempersiapkan materi untuk rapat dengan teman-teman di kampus, yang sedianya diadakan empat puluh lima menit lagi.


Sampai akhirnya,ketika akan berangkat ke kampus, aku baru tersadar tidak ada uang sepeser pun di dompetku. Setengah panik aku mengubek-ubek isi kamarku yang sudah tertata rapi, berharap ada uang yang bisa dipakai untuk naik angkot ke kampus.


Dan ujian kesabaran baru saja dimulai pagi itu. Tidak ada uang sama sekali yang kutemukan,di dompetku hanya terselip dua buah kartu ATM,celakanya mesin ATM terdekat jaraknya tidak kurang sekitar satu kilometer dari tempat kostku.

Tidak ada seorang pun di tempat kostku yang bisa kumintai tolong,maka aku bergegas menuju mesin ATM, memburu waktu agar tidak telat memimpin rapat di kampus.
Tidak lagi kuhiraukan tubuhku bersimbah peluh setelah sekitar lima belas menit setengah berlari mencari mesin ATM. Dan mataku berbinar ketika aku akhirnya sampai di mesin ATM.
Namun tunggu dulu, episode bertajuk "ujian kesabaran" belum usai.Saat kumasukkan kartu ATM, berharap segera mengantongi uang, tiba-tiba muncul pesan di layar mesin ATM : "maaf proses penarikan tidak dapat dilakukan karena uang di mesin ATM habis".


Duuuuerrr....seperti tersambar petir, lemas aku membacanya,aduh bagaimana ini? waktu tinggal lima belas menit lagi sebelum agenda rapat di mulai. Astaghfirulloh, tidak henti-henti kalimat itu aku ucapkan. Bagaimana aku harus mengabarkan kepada teman-temanku bahwa rapat harus ditunda, sementara pulsa HP ku sudah "sekarat"?


"Ya Robb...tolonglah hamba-Mu yang lemah ini..." gumamku sembari berjalan pelan menuju tempat kost. Di tengah perjalanan, tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah lempengan kecil berbentuk bulat, usang , separuh bagiannya tertutup debu, setelah aku memungutnya baru aku mengetahui benda itu uang seratus perak. "Alhamdulillah....." pekikku, doaku begitu cepat terkabul, segera aku ke telepon umum dan menghubungi teman-teman di sekertariat JMMI, minta tolong agar teman-teman di sana ada yang menjemputku.


Dan tidak lama berselang seulas senyum manis saudaraku terlihat saat menjemputku, menghapus segala kepanikan dan rasa letih yang baru saja merajai diri ini, kemudian kami pun segera bergegas menuju ke kampus.


Subhanalloh, pagi itu ALLOH telah menyampaikan "mata kuliah" kehidupan tentang mensyukuri nikmat-nikmat-Nya yang mungkin karena rutinitas kita, seolah tidak berharga,betapa pun ia hanya uang seratus perak usang, sekalipun itu hanya seulas senyum yang terterjemahkan dari wadah selaksa cinta bernama ukhuwah.


Terima kasih ya ALLOH, pagi ini aku memiliki energi lebih untuk menantang matahari esok hari.....

Surabaya, 4 Februari 2007
PS: untuk ikhwah di JMMI ITS, terima kasih atas cinta dan ukhuwahnya selama ini ........

4 Comments:

At 7:47 PM, Blogger rini as said...

assalamu'alaikum wrwb.
wah, sebuah pengalaman berharga bagi orang-orang yang bisa mengambil hikmah di dalamnya.

 
At 7:13 AM, Blogger RoSa said...

Ukhuwah...

dalam ukhuwah terdapat cinta...dan makna cinta hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang mengenalNya...

semoga cinta kita padaNya kian membuncah, agar ukhuwah ini tak lekang dimakan zaman...

 
At 7:13 PM, Blogger :: N :: said...

wah 'N juga pernah ngerasain pentingnya 'uang seperak'. Aduh... padahal kalo lagi banyak duit, taruh sana-taruh sini.
Kalo sejuta kurang seratus rupiah, tetep aja bukan sejuta. Wah pokoknya seperak tuh tetep penting. Apalagi anak kost :D. btw soal ngekos, 'N blom pernah ngarasain jadi anak kost.

 
At 6:11 PM, Blogger pyuriko said...

Terkadang buat kita, uang 100 perak itu tak ada gunanya, bisa ditaruh di sembarang tempat, tanpa perduli kehilangan.

Tapi ada bbrp orang dengan keadaan genting sprt ini, uang sekecil itu bisa bernilai tinggi...


Memang indah yaaa ukhuwah itu...

 

Post a Comment

<< Home