Thursday, April 19, 2007

Wanita, Jangan Menangis (Lagi)...

"Dari seluruh makhluk di permukaan bumi yang berdarah dan tumbuh, wanita yang paling banyak memarnya" kata seorang penyair Yunani berabad silam.

Bahwa diskursus gender telah terjadi sejak jaman dimana Tuhan telah menciptakan Hawa sebagai pendamping Adam dan pergesekan dari relasi antar gender ini menjadi ekses yang terus mengiringi pertumbuhan jaman.

Tanpa menampik bahwa penindasan tidak hanya (bisa) didominasi gender tertentu, namun kemudian kita patut untuk memberikan karangan bunga bela sungkawa bagi perjalanan sejarah hidup manusia, bahwa terlalu banyak darah dan airmata wanita yang menghiasi jalan sejarah ini.
Kekerasan dalam rumah tangga,human trafficking, pelecehan seksual adalah berderet derita yang menjadikan wanita sebagai korban.

Minimal ada tiga fase penyebab penindasan gender ini terjadi, pertama, fase dimana marginalisasi ini terbentuk secara "alamiah" dalam kompetisi paling primitif antar manusia untuk mempertahankan hidup. Kebodohan, barbarik, menjadi bumbu pelengkap pada fase ini.

Kedua, konstruksi sosial yang berlindung dibalik berbagai macam dalil de-interpretasi, atas nama Tuhan, maupun politisasi norma lainnya. "Wanita adalah jelmaan iblis" demikian dogma sebuah agama, dan semua penindasan pun tampak begitu suci

Ketiga,fase dimana wanita sudah berani tampil di ruang publik yang dahulu steril dari eksistensi mereka ,menggugat pengekangan fungsi dan posisi sosial mereka serta melakukan "perang terbuka", tetapi pada saat yang sama palagan ini membuka celah lebar mereka untuk (kembali) ditindas. Gerakan pembebasan yang pada akhirnya diakui sendiri oleh dedengkot feminis sebagai sesuatu yang kebablasan.

Terlepas dari semuanya, apakah para lelaki di muka bumi ini tidak lagi bisa mengisi setiap lorong bumi ini dengan cinta? apakah mitos bahwa level kejantanan (maskulinitas) yang dibangun dengan menyiapkan telaga nelangsa dari perasan darah dan airmata para wanita harus tetap kita jaga? Apakah keharmonisan antar gender ini tidak bisa dibangun berdasarkan porsi fitrah, kesetaraan bukan kesamaan, keadilan bukan kebebasan.......

Dan sebagai seorang manusia yang dilahirkan dari sebentuk ruang muara cinta bernama rahim wanita dengan segala kebaikannya, ijinkan aku berkata : " wanita, jangan menangis (lagi).... "


Kota Cinta, 18 April 2007

3 Comments:

At 9:09 PM, Blogger lutfia said...

meminta wanita menghentikan tetesan airmatanya = meminta dunia berhenti berputar. mau??
kenapa tak biarkan tetesan air dari dua telaga mata itu mengalir membasahi kerak-kerak dunia...
bukankah mengubah sebab dan makna tetesan airmata itu yang lebih penting daripada memintanya tuk tak menangis lagi??..gitu kali yee...saluut tuk tulisan2..nya wah kalo ane kenal penerbit buku ntar ane promosikan deh...IA..

 
At 9:38 PM, Anonymous dianika said...

Saya suka gaya tulisan Anda
Cah Lamongan juga to..
Tahu blog ini dari Lutfi..

Tulisan yang bagus...
support yang menarik untuk sebuah effort menuju equality

Tulisan yang menarik..

Saya pernah dengar seorang rekan berkata,"Saya melakukan termasuk melarang istri keluar rumah karena saya sayang dengan istri." Jadilah kemudian ia melarang sang istri bergaul...

Keep posting ya...

 
At 2:16 AM, Anonymous awan said...

untuk mbak dianika dan luthfia ( ini Luthfia Ramadhani, temen saya di 2.5 SMUDA, yang dulu suka saya isengin? ^_^' ? ), terima kasih atas apresiasinya ats tulisan2 saya, danke !!!

spiderman numbuk padi....
selamat menikmati...
hallah....^_^V

teriring hormat saya,

awan
"...Hanya lelaki Biasa..."

 

Post a Comment

<< Home